Konsumsi Mi Instan sebagai Ancaman Epidemi Penyakit Tidak Menular
23 jam yang lalu
Foto: M. Chairul Arifin
Radarsuara.com - Oleh: M. Chairul Arifin
Purnabakti Kementerian Pertanian, Alumni Universitas Airlangga
Dalam dunia kedokteran termasuk kedokteran hewan hubungan antara konsumsi pangan olahan dan meningkatnya penyakit kronis bukanlah hal baru. Selama beberapa dekade, literatur veteriner telah mencatat kecenderungan serupa: ketika pakan ultra-olahan menjadi sumber konsumsi utama, prevalensi penyakit degeneratif meningkat secara signifikan.
Pangan Ultra-Olahan dan Penyakit Degeneratif
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak dijumpai kasus pada hewan kesayangan, khususnya anjing dan kucing, yang menderita penyakit kronis seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, kelainan metabolik, hingga kanker. Salah satu faktor risiko yang kerap ditemukan adalah konsumsi jangka panjang pakan ultra-olahan dengan komposisi nutrisi tidak seimbang, rendah serat, serta tinggi bahan tambahan pangan.
Hewan kesayangan hidup dalam lingkungan yang relatif terkontrol: jenis pakan seragam, pola makan konsisten, serta paparan faktor risiko yang terbatas. Ketika penyakit kronis tetap meningkat dalam kondisi seperti ini, maka kualitas dan karakteristik pakan menjadi variabel yang sulit diabaikan. Prinsip biologis tersebut sejatinya juga berlaku pada manusia.
Refleksi pada Pola Konsumsi Manusia
Mi instan merupakan contoh nyata pangan ultra-proses yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Karakteristiknya mirip dengan pakan olahan pada hewan: tinggi karbohidrat sederhana, lemak, dan natrium, namun rendah serat serta mikronutrien esensial. Jika dikonsumsi sesekali, dampaknya mungkin relatif kecil. Namun, ketika mi instan menjadi sumber pangan utama—terutama pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah—risikonya berubah dari masalah individual menjadi persoalan kesehatan publik.
Saya sendiri mengalami secara langsung dampak pola konsumsi yang tidak sehat. Riwayat konsumsi mi instan harian dalam jangka panjang, disertai kebiasaan swamedikasi obat pereda nyeri, berujung pada stroke berat. Pengalaman tersebut menjadi refleksi personal bahwa akumulasi risiko diet buruk sering kali tidak disadari hingga muncul dampak klinis yang serius.
Epidemi Non-Infeksi yang Terabaikan.
Berbeda dengan penyakit menular, penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular berkembang secara perlahan dan senyap. Inilah yang membuatnya sering luput dari kewaspadaan publik maupun pembuat kebijakan.
Dalam epidemiologi, ketika faktor risiko dikonsumsi secara luas dan terus-menerus oleh populasi, maka dapat terjadi apa yang disebut sebagai epidemi non-infeksi: tanpa agen patogen, namun berdampak masif dan sistemik..
.
Konsumsi pangan ultra-proses secara kronis berpotensi menciptakan kondisi tersebut. Beban kesehatan yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga sistem kesehatan nasional..
Pelajaran dari Kedokteran Hewan.
Pengalaman di bidang kedokteran hewan menunjukkan bahwa normalisasi pakan olahan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi penyakit kronis pada hewan. Jika pola serupa terus dibiarkan pada manusia melalui konsumsi pangan ultra-proses seperti mi instan, maka ancaman epidemi penyakit tidak menular bukan sekadar spekulasi, melainkan risiko nyata yang patut diantisipasi sejak dini.
Belajar dari dunia kedokteran hewan, pencegahan selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibandingkan pengobatan. Prinsip yang sama seharusnya diterapkan dalam sistem pangan manusia, sebelum penyakit tidak menular berkembang menjadi beban epidemi yang sulit dikendalikan
.
M. Chairul Arifin
mchairul49@gmail.com
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023