Opini

Lebih Hebat dari Etanol? Biobutanol Disebut Bahan Bakar Sempurna Masa Depan

Monday, 19 January 2026 07:00 WIB
"Ilustrasi" Biobutanol disebut lebih baik dari Etanol. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Di tengah ambisi pemerintah memacu program bioetanol, Indonesia dihadapkan pada realitas pahit di mana produksi tebu nasional kian merosot dan harga gula melambung, sehingga memicu dilema etis penggunaan bahan pangan sebagai sumber energi.

Tekanan terhadap ketahanan pangan ini, ditambah dengan beban subsidi BBM yang membengkak, menuntut adanya diversifikasi biofuel yang lebih radikal dan adaptif.

Inilah saatnya Indonesia mengalihkan fokus pada Biobutanol, inovasi bahan bakar nabati yang diproduksi dari gunungan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Dengan volume limbah yang mencapai 56 juta ton per tahun, biobutanol muncul sebagai kandidat "bahan bakar sempurna" yang mampu menyelesaikan hambatan teknis yang selama ini gagal diatasi oleh bensin konvensional maupun bioetanol.

Kebutuhan akan biobutanol ini didasari oleh keunggulan efisiensi termodinamikanya yang jauh melampaui bioetanol generasi pertama. Secara teknis, bioetanol hanya memiliki densitas energi sekitar 67% dari bensin murni, yang berimplikasi pada konsumsi bahan bakar yang lebih boros bagi pengguna.

Sebaliknya, biobutanol memiliki struktur rantai karbon yang lebih Panjang dengan kandungan energi mencapai 90–95% bensin. Sebagai perumpamaan, jika bioetanol adalah sistem penyimpanan energi kualitas standar, maka biobutanol adalah sistem premium yang menawarkan jarak tempuh lebih jauh dengan volume yang sama.

Keunggulan densitas energi tersebut semakin diperkuat oleh kompatibilitas biobutanol terhadap infrastruktur otomotif yang ada saat ini. Berbeda dengan bioetanol yang bersifat higroskopis yakni kecenderungan menyerap air yang memicu korosi pada tangki dan kerusakan pada komponen karet mesin, biobutanol bersifat anti-air dan non-korosif.

Sifat inilah yang menempatkan biobutanol dalam kategori drop-in fuel, di mana bahan bakar ini dapat langsung digunakan tanpa memerlukan modifikasi pada mesin kendaraan konvensional. Analogi teknisnya, biobutanol berfungsi sebagai tamu yang adaptif terhadap struktur mesin lama.

Peluang implementasi drop-in fuel ini sangat menjanjikan di Indonesia mengingat ketersediaan biomassa selulosa yang melimpah secara nasional. Secara ilustratif, konversi sebesar 20% dari total 56 juta ton TKKS berpotensi memproduksi 1,6 hingga 2 miliar liter biobutanol per tahun.

Proses ini dilakukan melalui fermentasi ABE (Acetone-Butanol-Ethanol) dengan bantuan bakteri Clostridium acetobutylicum yang mampu memecah serat limbah sawit. Dengan memanfaatkan residu padat industri sawit, Indonesia dapat menghentikan konflik kepentingan "Pangan vs Energi".

Karena bahan baku yang digunakan tidak lagi bersaing dengan Meskipun kebutuhan meja makan rakyat. potensi produksinya masif, transisi menuju komersialisasi biobutanol saat ini masih tertahan oleh tantangan efisiensi biologis dalam proses fermentasi.

Fenomena product inhibition menjadi hambatan utama, di mana butanol yang dihasilkan justru menjadi racun bagi bakteri Clostridium itu sendiri ketika mencapai konsentrasi tertentu. Ibarat seorang koki yang terhambat oleh aroma masakannya sendiri, bakteri ini berhenti berproduksi sebelum hasil optimal tercapai.

Tantangan inilah yang menyebabkan biaya produksi biobutanol saat ini masih lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga memerlukan inovasi teknologi pemisahan yang lebih efisien agar dapat bersaing di pasar terbuka.

Menanggapi kendala tersebut, saat ini pengembangan teknologi biobutanol telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL) pada skala 5–7, yang menandakan pergeseran dari riset laboratorium menuju tahap demonstrasi pilot.

Solusi ilmiah seperti gas stripping dan membrane separation terus dikembangkan untuk memisahkan butanol secara in-situ selama fermentasi, guna mencegah keracunan bakteri dan menekan biaya pemurnian.

Dengan arah riset yang tepat dan kebijakan investasi yang berfokus pada selulosa sawit, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kedaulatan energi yang mandiri, inklusif, dan ramah terhadap ekosistem nasional.

Kontributor: Nabila Tri Mardani, Mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITTSI)

Editor: Mahipal

 

 

Komentar

You must login to comment...

RadarSuara Logo

Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023

Tag Terpopuler