Dari Singkong Menjadi Madu Analog, Inovasi Polbangtan Kementan Dorong Nilai Tambah Pangan Lokal
9 jam yang lalu
Foto: Produk
Radarsuara.com - Singkong selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas pangan lokal yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Namun, di tangan inovator Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, singkong tidak berhenti sebagai bahan pangan sederhana. Komoditas tersebut dikembangkan menjadi madu analog berbasis fruktosa singkong, sebuah inovasi pangan alternatif yang memiliki karakteristik menyerupai madu alami.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Aminudin, dosen prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian dari Polbangtan Bogor juga mahasiswa Jurusan Pertanian selama bulan Juni 2026.
Madu analog ini memadukan fruktosa singkong dengan jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung. Perpaduan tersebut menghasilkan produk dengan warna kuning keemasan, aroma herbal, rasa sangat manis, serta tekstur cair-kental yang menyerupai madu alami.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui inovasi dan pengolahan. Semangat tersebut sejalan dengan pengembangan produk pangan berbasis komoditas lokal yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha.
“Pertanian tidak berhenti pada kegiatan produksi di lahan. Kita harus mendorong hasil pertanian memiliki nilai tambah melalui inovasi, pengolahan, dan pemanfaatan teknologi. Ketika komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, maka manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh petani dan masyarakat,” ujar Amran dalam draft statement untuk rilis ini.
Madu analog berbasis fruktosa singkong memiliki kebaruan pada kombinasi bahan yang digunakan. Fruktosa singkong dipadukan dengan jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung untuk menghasilkan produk dengan karakteristik warna kuning keemasan, aroma dan rasa herbal, serta tekstur yang homogen dan kental.
Hasil uji organoleptik menunjukkan skor penerimaan sebesar 4,57 atau masuk kategori sangat suka, sementara aspek rasa memperoleh skor tertinggi, yakni 4,87. Dari sisi karakteristik produk, madu analog ini memiliki kadar sekitar 80°Brix.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa inovasi semacam ini menunjukkan pentingnya keterhubungan antara pendidikan vokasi, pengembangan teknologi, dan kebutuhan nyata di sektor pertanian. Menurutnya, inovasi pengolahan hasil pertanian juga dapat menjadi bagian dari upaya mendorong petani dan pelaku usaha agar tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu mengembangkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Dari sisi implementasi, teknologi pembuatan madu analog relatif sederhana. Proses dimulai dengan persiapan, pencucian, dan pencampuran bahan. Selanjutnya campuran dipanaskan selama kurang lebih 45 menit menggunakan api kecil untuk meningkatkan viskositas hingga memperoleh tekstur menyerupai madu. Setelah proses pemanasan selesai, produk didinginkan dan kemudian dikemas dalam botol. Bahan yang digunakan terdiri atas fruktosa singkong, kangkung, kunyit, temulawak, dan air. Sementara peralatan yang diperlukan antara lain baskom, panci, saringan, kompor, pisau, talenan, sutil, botol, serta timbangan digital.
Kesederhanaan proses tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut, khususnya bagi Teaching Factory Pengolahan Hasil Pertanian Polbangtan Bogor maupun petani dan pelaku usaha yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku pangan lokal.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menilai inovasi pengolahan hasil pertanian dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pembelajaran vokasi yang berbasis praktik.
Salah satu keunggulan madu analog ini adalah bahan bakunya relatif mudah diperoleh dan terjangkau. Produk juga tidak bergantung pada musim serta dapat meningkatkan nilai tambah singkong sebagai bahan pangan lokal.
Dokumen inovasi mencatat bahwa umur simpan produk diperkirakan mencapai enam bulan pada suhu ruang dalam kemasan tertutup. Angka tersebut merupakan estimasi sebagaimana tercantum dalam dokumen teknologi, sehingga pengujian umur simpan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan stabilitas produk pada kondisi penyimpanan yang berbeda.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengatakan bahwa pengembangan inovasi berbasis komoditas lokal menjadi bagian dari upaya kampus untuk menghadirkan hasil pendidikan dan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata.
“Kami ingin Polbangtan Bogor tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi pertanian yang dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah. Madu analog berbasis fruktosa singkong ini menunjukkan bahwa komoditas lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang inovatif,” kata Yoyon.
Menurut Yoyon, keberadaan Teaching Factory Pengolahan Hasil Pertanian juga menjadi ruang penting untuk mempertemukan proses pembelajaran dengan praktik pengolahan produk pertanian.
“Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana bahan baku pertanian diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dari proses tersebut mereka belajar mengenai teknologi pengolahan, kualitas produk, kreativitas, hingga peluang pengembangan usaha,” lanjutnya.
Madu analog berbasis fruktosa singkong menjadi gambaran bahwa inovasi pangan dapat dimulai dari bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak hanya memanfaatkan singkong sebagai sumber bahan baku, inovasi ini juga mengkombinasikannya dengan berbagai bahan herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung. Hasilnya adalah produk dengan karakteristik yang berbeda dari olahan singkong pada umumnya.
Bagi Polbangtan Bogor, inovasi tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus mengembangkan pendidikan vokasi pertanian yang aplikatif, inovatif, dan berorientasi pada pemanfaatan potensi lokal. (wsd)(*/Adv)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023