Nasional

Hampir 2.000 Orang Keracunan MBG dalam Tiga Hari Terakhir

1 jam yang lalu
"Ilustrasi" Ribuan orang keracunan MBG. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Hampir 2.000 orang, sebagian besar anak-anak, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam kurun waktu tiga hari, mulai Selasa (1/9) hingga Kamis (3/9) 2026.

Kasus dugaan keracunan tersebut terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; hingga Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, dikutip Jum'at, 4 September 2026.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, jumlah korban dugaan keracunan MBG mencapai 730 orang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.

Para korban merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Mereka diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (1/9).

Selain santri, sejumlah sekolah di wilayah tersebut juga melaporkan anak didiknya mengalami gejala serupa.

Sementara itu, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sebanyak 777 murid dan guru SMA Negeri 1 Lasem diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan para murid dan guru mulai mengonsumsi makanan tersebut pada Rabu (2/9) sekitar pukul 12.00 WIB. Menu yang disajikan berupa nasi, ayam bakar, sambal teri, tempe goreng, dan lalapan.

Pada Kamis pagi, sejumlah murid mulai mengalami diare dan berdesakan untuk menggunakan toilet.

“Diare dan bergantian masuk toilet. Total ada 40 toilet sehingga tidak mampu menampung semuanya. Padahal malamnya sudah diare tapi baru laporan hari ini,” ujar Juhartutik.

Berdasarkan pendataan pihak sekolah, sebanyak 752 siswa dan 25 guru mengalami diare.

Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas Lasem untuk mendapatkan bantuan medis. Sebanyak 1.174 murid dan 95 guru serta karyawan juga dipulangkan dari sekolah.

Kepala Puskesmas Lasem, dr. Joko Paryanto, mengatakan 21 murid telah menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat. Dari jumlah tersebut, 17 siswa diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, sedangkan empat lainnya menjalani rawat inap.

“17 siswa boleh pulang rawat jalan dan empat siswa rawat inap. Semua kondisinya baik dan tertangani dengan baik,” terang Joko.

Kepala SPPG Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa.

“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” kata Achmad.

Ia memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung pihak SPPG.

“Semua pengobatan kami pastikan gratis dan dicover total. Kami bertanggung jawab penuh atas pemulihan kesehatan para siswa dan guru,” jelasnya.

Kasus dugaan keracunan juga terjadi di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sebanyak 276 orang yang terdiri dari murid SD, SMP, SMA, serta guru diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG.

Pemerintah daerah kemudian menghentikan sementara distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh.

Di Bener Meriah, Aceh, sebanyak 16 orang yang terdiri dari 15 siswa SD dan seorang kepala sekolah juga dilarikan ke Puskesmas Lampahan pada Rabu (2/9). Mereka dilaporkan mengalami gejala berupa pusing, mual, gatal, hingga sedikit kesulitan bernapas setelah menyantap menu MBG.

Kasus lainnya terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebanyak 152 orang dari SMP Negeri 1 Makale dan SMP Negeri 2 Makale mengalami gejala dugaan keracunan pada Kamis (3/9).

Para siswa diduga mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG yang disediakan SPPG Batupapan sehari sebelumnya. Mereka dilaporkan mengalami mual, muntah, sakit perut, hingga diare dan mendapatkan perawatan di tiga rumah sakit di Kota Makale.

Kepala SMP Negeri 1 Makale, Yohanis Pakiding, mengatakan pihak sekolah langsung mengambil tindakan setelah jumlah siswa yang mengalami gejala terus bertambah.

“Karena sudah massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya menghubungi rumah sakit dan puskesmas,” ungkap Yohanis.

Menurut Yohanis, makanan MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri dari nasi, ayam dimasak air, perkedel, serta sayur campuran wortel.

Seorang orang tua murid juga mengaku mendapat informasi dari anaknya bahwa makanan tersebut berlendir, sementara daging ayam disebut masih berwarna merah dan berbau amis. Namun, dugaan penyebab keracunan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeq, yang meninjau korban di RSUD Lakipadada mengatakan pemerintah daerah mengerahkan fasilitas kesehatan dan tenaga medis untuk menangani para korban.

“Saya sudah sampaikan kepada semua pimpinan rumah sakit, bahwa ini harus segera ditangani sesegera dan seoptimal mungkin sesuai dengan SOP yang ada di rumah sakit,” kata Zadrak.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...