Ketua BRA Tegaskan Tak Ada Pernyataan Mentan Amran yang Menyudutkan Pemerintah Aceh (Foto: Dok. Kementan)
Radarsuara.com - Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin menegaskan tidak ada satu pun pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam pertemuan dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang menyudutkan Pemerintah Aceh.
Penegasan itu disampaikan Jamaluddin berdasarkan keterlibatannya secara langsung dalam pertemuan tersebut yang berlangsung sekitar satu jam di Jakarta, Selasa (4/8).
Jamaluddin yang hadir langsung dalam pertemuan tersebut mengatakan dirinya mengetahui secara utuh pembicaraan antara Gubernur Aceh dan Mentan Amran. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak mencermati informasi yang beredar di media sosial secara sepotong-sepotong karena berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak sesuai dengan konteks sebenarnya.
“Tidak ada satu kalimat pun dari Bapak Menteri Andi Amran Sulaiman dalam pembicaraan tersebut yang menyudutkan kami. Keakraban Pak Menteri dan Gubernur Aceh justru akan ada keuntungan bagi Pemerintah Aceh dalam pemenuhan hak korban bencana dan subjek reintegrasi,” ujar Jamaluddin, Sabtu (8/8).
Menurut Jamaluddin, pertemuan tersebut pada dasarnya merupakan agenda BRA dengan Kementerian Pertanian untuk membahas sejumlah kegiatan dan dukungan bagi Aceh. Ia memastikan tidak ada persoalan antara Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem dengan Mentan Amran.
“Pertemuan di Jakarta pada Selasa, 4 Agustus 2026 itu sebenarnya agenda BRA dengan Kementerian Pertanian, isinya membahas beberapa kegiatan di BRA. Tidak ada persoalan antara Mualem dengan Menteri Pertanian,” katanya.
Jamaluddin bahkan menyampaikan apresiasi kepada Mentan Amran atas berbagai dukungan yang telah diberikan Kementerian Pertanian untuk membantu pemulihan Aceh pascabencana.
“Kita malah patut berterima kasih kepada Pak Menteri Andi Amran Sulaiman yang mengucurkan berbagai bantuan untuk Aceh,” ujar Jamaluddin.
Ia menjelaskan, dukungan tersebut mencakup berbagai kebutuhan pemulihan sektor pertanian pascabencana, antara lain revitalisasi sawah, pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan), penyediaan benih dan bibit, serta berbagai program bantuan lainnya bagi masyarakat dan petani Aceh.
Jamaluddin kembali menegaskan bahwa informasi dan video yang beredar di media sosial hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan pembicaraan yang berlangsung dalam pertemuan tersebut.
“Info dan video yang beredar di media sosial itu hanya bagian kecil dari keseluruhan isi pembicaraan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut,” jelasnya.
Sejalan dengan penjelasan Ketua BRA tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch. Arief Cahyono, menegaskan bahwa hubungan baik antara Mentan Amran dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf menjadi modal penting untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian Aceh pascabencana.
“Penjelasan yang disampaikan Pemerintah Aceh sudah tepat dan sejalan dengan data yang kami miliki. Ini menunjukkan komunikasi yang baik antara Kementan dan Pemerintah Aceh, sebagaimana hubungan erat antara Pak Menteri dan Pak Gubernur,” ujar Arief.
Arief menjelaskan, Kementan telah menyiapkan dukungan pemulihan sektor pertanian Aceh dengan total alokasi sekitar Rp1,7 triliun. Sekitar Rp530 miliar disalurkan melalui dana Tugas Pembantuan untuk optimalisasi lahan dan rehabilitasi sawah, sementara sekitar Rp1,2 triliun dikelola melalui satker pusat dan balai Kementan dalam bentuk alsintan serta benih berbagai komoditas.
Menurutnya, dukungan tersebut perlu segera direalisasikan agar manfaatnya dapat dirasakan petani terdampak bencana. Percepatan terutama diperlukan dalam penyelesaian administrasi dan usulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) dari pemerintah daerah.
“Pak Menteri ingin mengajak semua pihak bersama-sama melakukan percepatan realisasi anggaran. Ini tanggung jawab bersama karena manfaatnya sangat dinantikan petani di Aceh,” katanya.
Selain dukungan melalui program pemerintah, Mentan Amran bersama mitra kerja juga telah menyalurkan bantuan pribadi sekitar Rp40 miliar untuk masyarakat Aceh pada masa awal bencana.
Arief menilai kehangatan pertemuan Mentan dan Gubernur Aceh pada 4 Agustus 2026 menunjukkan kuatnya hubungan kedua pihak.
“Kehangatan pertemuan itu mencerminkan hubungan baik yang selama ini terjalin antara Pak Menteri dan Pak Gubernur. Ini menjadi modal penting untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian di Aceh. Semangat percepatan ini semata-mata demi kepentingan rakyat Aceh,” ujarnya.(*/Adv)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023