Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim
Radarsuara.com - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa seorang istri akan otomatis mengikuti nasib suaminya di akhirat.
Menurutnya, ungkapan Jawa "istri suargo nunut, neroko katut" tidak sejalan dengan ajaran Al-Qur'an. Keselamatan maupun hukuman di akhirat ditentukan oleh keimanan dan amal setiap individu.
Hal tersebut disampaikan Kiai Saad dalam acara Tausiyah Kiai Saad yang disiarkan TVMu.
Ia menjelaskan, Al-Qur'an secara tegas memberikan pelajaran melalui Surah At-Tahrim ayat 10–12 tentang tanggung jawab personal setiap manusia di hadapan Allah.
Sebagai pengantar, Kiai Saad memaparkan latar belakang turunnya Surah At-Tahrim yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw.
Ketika Nabi mengharamkan madu yang sebenarnya halal demi menyenangkan hati sebagian istrinya, Allah menegur beliau agar tidak mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan hanya demi mencari keridaan manusia.
Menurut Kiai Saad, dari rangkaian ayat tersebut Al-Qur'an kemudian memperluas pembahasan mengenai prinsip-prinsip kehidupan keluarga bagi seluruh umat Islam.
Ia menegaskan, ayat keenam Surah At-Tahrim juga memerintahkan setiap orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Perintah tersebut menunjukkan adanya kewajiban membina keluarga dalam keimanan. Namun, hal itu bukan berarti seseorang dapat memindahkan tanggung jawab akhiratnya kepada anggota keluarga yang lain.
Untuk memperjelas pesan tersebut, Kiai Saad menguraikan kisah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang dijadikan Allah sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Meski hidup berdampingan dengan dua nabi, keduanya tetap menerima hukuman karena memilih jalan kekafiran dan melakukan pengkhianatan terhadap risalah yang dibawa suami mereka.
Menurutnya, pengkhianatan yang dimaksud bukanlah perselingkuhan, melainkan pengkhianatan terhadap keimanan dan dakwah para nabi.
Ia menjelaskan bahwa istri Nabi Nuh membocorkan keberadaan orang-orang yang beriman kepada kaumnya sehingga mereka mengalami ancaman.
Sementara itu, istri Nabi Luth membocorkan kedatangan tamu-tamu yang sebenarnya adalah malaikat kepada kaumnya yang gemar melakukan penyimpangan seksual. Karena itulah, keduanya tetap mendapat hukuman meskipun memiliki suami seorang nabi.
"Dari kisah tersebut terlihat bahwa kedekatan dengan orang saleh, bahkan dengan seorang nabi, tidak dapat menyelamatkan seseorang apabila ia sendiri memilih kekafiran," terang Kiai Saad, dikutip dari muhammadiyah.or.id Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur'an sengaja menghadirkan contoh yang sangat ekstrem agar umat memahami bahwa hubungan keluarga tidak menghapus tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
Karena itu, menurutnya, setiap orang harus berusaha menyelamatkan dirinya sendiri melalui keimanan dan amal saleh.
Ia mengingatkan kembali perintah Al-Qur'an agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka, sembari mengajak umat Islam memperbanyak amal, termasuk sedekah meski hanya dengan sebutir kurma maupun menanam pohon yang kelak memberi manfaat bagi makhluk lain sebagai amal jariah.
Kiai Saad juga mengutip prinsip Al-Qur'an bahwa tidak ada seorang pun yang memikul dosa orang lain. Bahkan seorang nabi pun tidak menanggung dosa istrinya.
Oleh sebab itu, seorang suami berkewajiban memimpin keluarga menuju kebaikan, memberikan nafkah yang halal, serta mencegah kemungkaran.
Namun, pada akhirnya, setiap anggota keluarga tetap akan dimintai pertanggungjawaban atas amalnya masing-masing.
Menurutnya, ajaran tersebut menunjukkan keadilan Islam karena setiap manusia memperoleh balasan sesuai usaha yang dilakukannya.
Baik laki-laki maupun perempuan didorong untuk berlomba-lomba dalam kebajikan tanpa bergantung pada status atau kedudukan anggota keluarganya. Pertanggungjawaban di akhirat bersifat personal sehingga setiap orang harus membangun ketakwaannya sendiri.
Menutup tausiyahnya, Kiai Saad memanjatkan doa agar Allah menjadikan setiap keluarga sebagai keluarga yang qurrata a'yun, keluarga yang menyejukkan hati, serta senantiasa berada dalam perlindungan-Nya.
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023