Peternak Kambing Ini Bisa Raup Keuntungan Hingga Rp48 Juta dengan Modal Kecil, Sampai Bisa Beli Tanah
Monday, 12 May 2025 08:20 WIB
Alfian, peternak kambing di Desa Ciasmara, Pamijahan, Kabupaten Bogor. (Foto: Radarsuara.com)
Radarsuara.com - Alfian, Warga Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, memulai usaha ternak kambing setelah bertahun-tahun mengandalkan pekerjaan serabutan tanpa penghasilan tetap.
“Saya ini serabutan aslinya pak. Saya ada uang ya kalau ada yang minta bantu macul, garap sawah, atau ngarit (mengumpulkan rumput untuk pakan ternak). Kadang ada, kadang ga ada penghasilan,” ucap Alfian saat ditemui Radarsuara.com pada Minggu (11/5/2025).
Kondisi tersebut mendorongnya untuk membangun usaha yang lebih pasti agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan menyiapkan tabungan.
“Kemudian saya berpikir, enggak bisa begini terus. Saya mau punya istilahnya investasi bisnis yang penghasilannya bisa nutup kebutuhan keluarga, sekolah anak, makan semuanya. Agar sewaktu-waktu saya enggak bingung kalau lagi enggak ada kerjaan. Intinya ingin ada tabungan lah,” ujarnya.
Alfian memutuskan untuk beternak kambing karena dinilai minim risiko dan sesuai dengan keahliannya.
“Terus saya mikir, apa ya usaha yang aman, minim risiko, tapi sudah saya kuasai? Ohh ternyata ternak kambing. Bisa kecil-kecilan karena modalnya, kalau sawah kan mahal ya,” katanya.
Ia mengumpulkan pinjaman sebesar Rp10 juta yang digunakan untuk membeli 10 kambing indukan dan membangun kandang sederhana. Kambing jantan ia sewa dari temannya karena keterbatasan dana.
“Saya pinjam uang kesana-kesini, dapet lah 10 juta, terus beli kambing indukan, harganya ada yang 1,5 juta, ada yang 2 juta, kebeli tuh 10 kambing indukan. Kambing jantannya saya pinjam pak, sewa punya teman, kurang uangnya kalau beli. Jadi awal- Uang pinjeman sisanya saya pakai buat bangun kandang,” jelasnya.
Untuk menekan biaya operasional, ia memilih mencari pakan sendiri daripada membayar jasa orang lain.
“Saya cari rumput (pakan) itu sendiri pak, karena saya mikir kalau nguli’in (pakai jasa orang) itu bisa 25 ribu per karung. Kalau ngarit sendiri hampir enggak modal,” ungkapnya.
Keuntungan dari ternak tidak digunakan untuk kebutuhan harian, melainkan ditabung untuk jangka panjang.
“Buat kebutuhan sehari-hari saya enggak pakai keuntungan dari kambing, karena emang niat saya itu ya buat tabungan. Jadi buat makan sehari-hari ya dari serabutan, seperti biasa, secukupnya. Tapi setelah beternak kambing, ekonomi mulai terbantu, hampir setiap tahun punya tabungan, kebutuhan terpenuhi,” tuturnya.
Hasil usaha ternak yang dijalankan secara mandiri kini memberi dampak nyata. Alfian menyebut dirinya telah memiliki tanah dan rumah sendiri.
“Dari hasil beternak itu, sekarang saya punya tanah, iya, bisa bangun rumah, Alhamdulillah. Satu induk kan bisa 1–2 anak biasanya yang hidup, kita rawat sampe layak jual, harganya bisa Rp 1,5 sampai 2 juta per ekor,” terangnya.
Ia mencatat keuntungan bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam satu periode penjualan.
“Coba hitung saja, misal 2 anak dari 10 induk, berarti kan 20 kambing untungnya. Setelah saya rawat, saya jual itunglah masing-masing misal laku Rp 2 juta, saya untung 40 juta, belum lagi kalau beruntung itu ada aja kambing yang anaknya 3, saya pernah waktu itu dalam sekali jual dapat Rp48 juta,” tutupnya.
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023