Foto: Muhamad Kundarto
Radarsuara.com - Oleh : Muhamad Kundarto
Wilayah Yogyakarta dalam beberapa hari terakhir ini menikmati guyuran hujan. Fenomena ini dirasakan mendadak, mengingat beberapa bulan sebelumnya berkutat dengan suasana kering kerontang akibat kemarau panjang dampak dari Super El nino.
Sementara itu pemberitaan di berbagai media kurun waktu dua bulan terakhir ramai tentang kejadian kebakaran hutan dan lahan, yang sangat sulit diatasi karena cuaca yang sangat kering dan belum turun hujan. Maka, kedatangan musim hujan menjadi berkah tersendiri dalam upaya pemadaman ini.
Satu sisi, kehadiran hujan lebat akan mampu menurunkan jumlah titik api secara drastis dan mendorong proses pembasahan pada lahan gambut yang mengalami kekeringan di area permukaan, yang mengakibatkan penurunan permukaan air lebih dari 40 cm.
Hujan lebat juga akan mampu membersihkan langit dari debu-debu kotor yang sebelumnya berdampak pada peningkatan gangguan penyakit saluran pernafasan.
Kabar baik ini akan meningkatkan efektifitas dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, juga dalam menanggulangi dampak penyakit terkait kemarau panjang.
Sisi yang lain, awal musim hujan akan merambat pasti menuju puncak musim pada bulan Desember, Januari dan Februari, dimana intensitas curah hujan akan semakin tinggi.
Kondisi lahan hutan yang terkoyak akibat penebangan liar dan kebakaran. Kawasan perbukitan dengan lereng curam sampai sangat curam yang mengalami alih fungsi hutan atau perkebunan dengan vegetasi rapat bertajuk tinggi, menjadi tanaman semusim seperti jagung, juga menyimpan bahaya bencana besar.
Awal kejadian hujan di lahan yang kekeringan, air akan masuk ke dalam tanah. Seiring kejenuhan tanah, terbentuk aliran permukaan (runoff). Aliran ini akan menguat seiring intensitas hujan makin tinggi.
Kekuatan aliran permukaan akan menjadi daya dorong sekaligus daya angkut butiran-butiran tanah menjadi proses erosi. Dorongan air yang semakin besar dan pegangan tubuh tanah yang makin berkurang akibat rusaknya vegetasi, akan melahirnya bencana tanah longsor.
Aliran permukaan yang menyatu di permukaan tanah, mengalir menuju ke badan sungai terdekat. Akumulasi aliran sungai di kawasan hulu tersebut mampu menghasilkan banjir bandang di beberapa titik pertemuan aliran yang terakumulasi akibat hambatan alam.
Akumulasi juga akan menghasilkan bencana banjir di kawasan hilir. Banjir bandang akan mengancam permukiman di dekat tebing Sungai, sedangkan banjir di Kawasan hilir akan mengancam permukiman padat yang berdekatan dengan badan Sungai.
Ancaman bencana juga bisa berdampak pada sektor pertanian pangan. Pergeseran kalender tanam yang mundur 20-30 hari akan berdampak pada musim tanam akhir tahun dan musim panen pada awal tahun.
Para petani yang salah memprediksi waktu tanam bisa mengalami ancama gagal panen. Jika musim panen mundur dan terjadi pula gagal panen, ini akan memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di awal tahun.
Semua pihak perlu berkolaborasi dan bersinergi dalam meningkatkan kesiapsiagaan dari pergeseran musim ini. Dari fokus penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, bergeser pada mitigasi bencana banjir dan longsor.
Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, terutama di wilayah lereng yang curam sampai sangat curam. Aliran permukaan yang membawa lumpur tanah adalah pertanda kerusakan lahan di area atas.
Apalagi jika membawa material bebatuan. Mari manfaatkan teknologi dalam pemantauan cuaca untuk menentukan jadwal tanam yang presisi dan mengantisipasi kedatangan bencana hidrometeorologi.
Perubahan iklim mendorong batas antar musim menjadi semakin ekstrem dan sering tidak dapat diprediksi secara konvensional. Butuh kecepatan beradaptasi untuk menentukan strategi dari menghadapi api (kebakaran) menuju pengendalian air (erosi, longsor dan banjir).(*/Adv)

Komentar
You must login to comment...Be the first comment...