Waduh, Trump Ancam Sanksi Bagi Negara Pendukung Iran
4 jam yang lalu
Presiden AS, Donald Trump. (Foto: Instagram @realdonaltrump)
Radarsuara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran yang ditujukan untuk menekan Iran di tengah konflik kedua negara. Trump juga memperingatkan negara lain yang memberikan dukungan kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi berat.
Trump menyampaikan kebijakan tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Kamis (20/8/2026). Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai kampanye ekonomi dengan skala yang belum pernah diterapkan Amerika Serikat terhadap negara lain.
"Hari ini, saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun! ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump, seperti dilansir AFP, Kamis (20/8/2026).
Trump juga memperluas ancamannya kepada negara-negara yang membantu Iran. Menurut dia, dukungan dari lembaga keuangan, perusahaan, bandara, maupun entitas pemerintah di negara lain akan menjadi dasar pemberian sanksi.
"Saya juga mengumumkan bahwa negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun yang menjadi penopang hidup bagi Iran, akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat," ujarnya.
Trump tidak menjelaskan secara terperinci bentuk hukuman yang akan diberlakukan terhadap negara-negara tersebut. Dalam pernyataannya, dia juga tidak menyebut secara spesifik negara lain yang berpotensi menjadi sasaran kebijakan tersebut.
Kebijakan terbaru Trump muncul hampir sepekan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Washington akan menerapkan isolasi ekonomi terhadap Iran dengan tingkat yang disebutnya belum pernah disaksikan dunia sebelumnya.
Tekanan ekonomi tersebut berlangsung ketika ketegangan di kawasan masih berkaitan erat dengan situasi di Selat Hormuz. Meskipun serangan rudal disebut sempat mereda, Iran masih menerapkan blokade efektif terhadap pelayaran di jalur strategis tersebut setelah kesepakatan awal antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz gagal terlaksana.
Dalam beberapa hari terakhir, Washington dan Teheran disebut masih melakukan pertukaran pesan. Namun, pada Selasa (18/8), Trump menyatakan perundingan telah dibatalkan.
Trump juga sebelumnya mengunggah pernyataan di media sosial yang mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi "Wilayah Baru AS".
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023