Pertanian dan Peternakan

Tingkatkan LTT dan Oplah, Kementan Terapkan Metode PM-AAS di Provinsi Banten

Wednesday, 15 July 2026 20:54 WIB
Tingkatkan LTT dan Oplah, Kementan Terapkan Metode PM-AAS di Provinsi Banten (Foto: Dok. Kementan)

Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus bergerak cepat memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan para penyuluh di lapangan guna mempercepat tercapainya swasembada pangan nasional.

Salah satu langkah nyata yang kini tengah digencarkan adalah penerapan metode Pertanian Modern melalui Advanced Agriculture System (PM-AAS) untuk mendongkrak Luas Tambah Tanam (LTT) dan Optimasi Lahan (Oplah). Gerakan tanam massal berbasis teknologi modern ini dilaksanakan secara langsung di kawasan persawahan Pandeglang, Provinsi Banten.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa target utama PM-AAS adalah meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata sekitar 5–6 ton/ha menjadi minimal 10 ton/ha, bahkan pada lokasi optimal dapat mencapai sekitar 12,4 ton/ha. Serta Peningkatan produktivitas diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani ujar Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penyuluh pertanian berperan penting dalam mempercepat penerapan inovasi PM-AAS. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan penyuluh dalam mendampingi petani agar teknologi dapat dipahami dan diterapkan secara optimal di lapangan.

Tenaga Ahli Menteri, Ani Mulyani, mengingatkan bahwa peningkatan produksi pangan memiliki syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan. Ia menekankan pentingnya kecukupan pupuk dan kedisiplinan tinggi dalam perawatan harian tanaman. 

"Peningkatan produksi memiliki syarat mutlak, yaitu kecukupan pupuk dan perawatan yang disiplin agar tanaman tidak mengalami stunting atau kerdil," tegas Ani Mulyani.

Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho, menegaskan bahwa kegiatan di lapangan ini merupakan aksi nyata untuk memberikan pemahaman teknis yang seragam bagi garda terdepan pertanian.

"Kegiatan ini adalah upaya nyata di lapangan untuk mempraktikkan langsung metode PM-AAS di daerah Pandeglang, Banten. Perlu memberikan informasi dan pelatihan langsung kepada seluruh penyuluh di lapangan agar memiliki pemahaman yang sama untuk mencapai target 1 juta hektar nasional," ujar Eko.

Dukungan penuh terhadap gerakan ini juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, menyatakan bahwa Provinsi Banten berkomitmen penuh menyukseskan gerakan tanam massal ini dengan membidik target perluasan tanam hingga mencapai 24.000 hektar di wilayah Banten. 

Guna merealisasikan target tersebut, Koordinator Penyuluh (Korluh) Banten bersama seluruh tim penyuluh lapangan memegang tanggung jawab besar dalam mengawal transfer teknologi ke tingkat bawah.

"Kami bertanggung jawab penuh atas sosialisasi teknis secara langsung kepada kelompok tani setempat. Pendampingan akan terus kami lakukan agar metode modern ini dapat segera diterapkan dan dirasakan manfaatnya di level petani," kata Korluh Banten.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Plt. Kepala BRMP Banten, Andri Polos, memaparkan secara detail komponen teknis PM-AAS yang menjadi kunci peningkatan produktivitas padi hingga minimal 10 ton per hektar.

Komponen tersebut meliputi penggunaan benih unggul berkualitas seperti varietas Cakra Buana dengan dosis tinggi berkisar antara 70 hingga 100 kilogram per hektar. Selain itu, petani diarahkan menerapkan pemupukan berimbang dengan formulasi 1 ton pupuk organik, 300 kilogram Urea, dan 400 kilogram NPK per hektar.

Langkah ini kemudian disempurnakan dengan pemberian Dolomit untuk menetralkan pH tanah, pengendalian gulma melalui penyemprotan herbisida yang presisi, serta penyemprotan silika pada usia tanaman 40–50 hari untuk memperkuat struktur batang padi agar tidak mudah roboh.

Sebelum benih ditanam, dilakukan juga perlakuan khusus ( seed treatment ) berupa perendaman benih selama 12 hingga 24 jam hingga kondisi benih pecah atau mentis. Guna mengantisipasi gangguan hama burung di sawah, benih yang telah direndam dicampur dengan bahan pelindung seperti matalita dan uradan/furadan.

Menariknya, metode PM-AAS ini menawarkan tingkat efisiensi biaya dan tenaga yang sangat tinggi bagi petani melalui teknik tanam rapat dengan jarak hanya 3 sentimeter antar lubang tanam. Proses penanaman juga dipermudah menggunakan alat mekanisasi pertanian berupa drum seeder yang menerapkan sistem tanam benih langsung (direct seeding).

Melalui alat ini, petani dapat melewati tahap penyemaian dan pindah tanam tradisional; benih cukup dimasukkan ke dalam drum, ditarik, dan otomatis tertanam sekaligus. Proses perawatan pun semakin modern dengan dukungan teknologi drone sprayer untuk penyemprotan pupuk cair maupun herbisida secara cepat dan merata.

Kegiatan gerakan tanam ini didampingi langsung oleh Direktur, yang memberikan penguatan mengenai pentingnya melahirkan inovasi-inovasi terbaru guna menjawab tantangan sektor pertanian modern saat ini. Selain aksi di lapangan, penguatan literasi teknologi pertanian juga difasilitasi oleh Pustakawan Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BBPLP). 

Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan dukungan literasi digital yang masif, penerapan metode PM-AAS di Pandeglang ini diharapkan mampu menjadi pemantik peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani secara berkelanjutan di Provinsi Banten. (FB) (*/Adv) 

 

Komentar

You must login to comment...