Siapkan Mitigasi Kekeringan, Kementan Perkuat Teknologi Pengelolaan Air (Foto: Dok. Kementan)
Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 12 yang berkolaborasi dengan Bincang-Bincang Literasi, Balai Besar Perpustakaan dan Lietarasi Pertanian, Jumat (17/04/2026).
Dengan mengusung tema "Teknologi Pengelolaan Air pada Tanaman Pangan untuk Mitigasi Kekeringan," dan fokus pada solusi teknis menghadapi tantangan iklim demi menjaga stabilitas produksi pangan nasional, acara ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan Zoom Meeting.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pentingnya efisiensi air. Air adalah kunci keberlanjutan pertanian. Kita harus disiplin dalam mengelola sumber daya air yang ada melalui teknologi irigasi yang efisien dan pompanisasi.
"Tidak boleh ada lahan yang menganggur hanya karena kekurangan air; kita harus jemput bola dengan teknologi,” tegasnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia pertanian.
“Penyuluh harus mampu mentransfer teknologi pengelolaan air ini kepada petani di lapangan. Penggunaan varietas toleran kekeringan dan teknik irigasi hemat air bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan petani tetap bisa panen meski di tengah ancaman kemarau,” ujar Idha.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menambahkan bahwa pentingnya kolaborasi teknologi di tingkat lapangan.
“Melalui MSPP bersama Bincang-Bincang Literasi ini, kita ingin memastikan informasi mengenai teknologi pengairan seperti AWD dan sistem panen air sampai ke seluruh pelosok. Kita harus bergerak serempak menggunakan teknologi tepat guna agar produktivitas tanaman pangan kita tidak terganggu oleh anomali cuaca,” ungkap Eko.
Pada kesempatan ini, MSPP menghadirkan dua narasumber utama, yakni Muhammad Adrian Munaf Karim, (Analisis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Pertama BRMP) dan Aris Pramudia (Peneliti Utama Bidang Ilmu Tanah, Agroklimatologi dan Hidrologi, BRIN).
Aris Pramudia menjelaskan kondisi klimatologi terkini, di mana meski saat ini terpantau normal, terdapat potensi kuat kembalinya fenomena El Nino pada akhir tahun 2026 yang harus diantisipasi sejak dini.
Aris juga memperkenalkan teknologi Alternating Wetting and Drying (AWD) atau irigasi berselang sebagai solusi utama penghematan air pada pertanaman padi.
Dengan menggunakan pipa paralon berlubang (pipa AWD) yang ditanam di lahan, petani dapat memantau tinggi muka air tanah dan hanya perlu melakukan pengairan saat air mencapai kedalaman 15 cm di bawah permukaan tanah.
Teknik ini terbukti mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 30% tanpa mengurangi hasil panen, sekaligus memperbaiki sirkulasi udara di perakaran dan mengurangi emisi gas metana, ungkapnya.
Aris juga memaparkan inovasi khusus untuk tanaman jagung yang sering menjadi korban kekeringan di lahan kering, yaitu "Sistem Kopior".
Inovasi ini merupakan alat penyiraman semi-mekanis yang sangat efisien, di mana satu tangki air dapat menjangkau lebih banyak tanaman dibandingkan metode konvensional. Aris menekankan bahwa efisiensi yang dihasilkan sangat drastis, yakni mampu menekan konsumsi air hingga 90%, atau dari kebutuhan awal 100 liter menjadi hanya 10 liter saja untuk luasan yang sama.
"Penggunaan varietas yang berumur genjah (cepat panen) dan toleran kekeringan juga menjadi strategi pelengkap yang wajib diadopsi petani untuk memperpendek masa kebutuhan air di lapangan," jelasnya.
Sementara, Adrian Munaf Karim memberikan perspektif mengenai pentingnya pengelolaan infrastruktur panen air ( water harvesting) sebagai benteng pertahanan terhadap kekeringan. Mengingat kekeringan adalah creeping disaster yang dampaknya terakumulasi secara perlahan, ia menekankan bahwa penyimpanan surplus air saat musim hujan melalui embung, dam parit, dan long storage adalah langkah yang tidak bisa ditunda.
Bangunan-bangunan air ini berfungsi sebagai tabungan yang akan menjamin ketersediaan air pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman di musim kemarau. Strategi ini harus dibarengi dengan pemeliharaan infrastruktur secara rutin agar kapasitas tampungnya tetap optimal dan tidak mengalami pendangkalan akibat sedimen.
Selain infrastruktur penampungan, Adrian juga menyoroti penerapan irigasi presisi untuk meningkatkan nilai guna air pada tanaman pangan non-padi. Penggunaan teknologi seperti hose spray , big gun sprinkler , hingga sistem irigasi tetes (drip irrigation) sangat disarankan karena dapat menghantarkan air langsung ke zona perakaran tanaman secara terukur. Menurutnya, modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) di bidang pengairan ini akan sangat membantu petani dalam menekan biaya operasional bahan bakar pompa air.
Dengan irigasi yang lebih terarah, risiko kehilangan air akibat penguapan dan perembesan yang tidak perlu dapat diminimalisir, sehingga setiap tetes air yang dipompa benar-benar memberikan dampak maksimal bagi produktivitas lahan.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan fokus pada penyelesaian kendala riil di lapangan, salah satunya mengenai ancaman salinitas di wilayah pesisir seperti Tangerang yang diangkat oleh Koordinator Penyuluh BPP Kampung Melayu.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menyarankan penggunaan mikroba penguat benih dan pemilihan varietas padi toleran garam seperti Biosalin untuk menjaga pertanaman tetap produktif.
Selaku Penyuluh Pertanian Utama Pusat Penyuluhan Pertanian, Siti Nurjanah memberikan penekanan bahwa keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada manajemen kelompok tani melalui P3A agar distribusi air dan bantuan pompa tidak memicu konflik sosial.
Ia juga mengingatkan para penyuluh untuk disiplin dalam melaporkan data LTT secara real-time, karena keakuratan data lapangan merupakan landasan utama bagi pemerintah pusat dalam mendistribusikan bantuan benih dan alat mesin pertanian secara tepat sasaran.
Melalui MSPP dapat disimpulkan bahwa mitigasi kekeringan memerlukan sinergi antara kesiapan infrastruktur, penguasaan teknologi hemat air, dan manajemen kelembagaan petani yang kuat. Melalui penguatan peran penyuluh dalam mendampingi petani mengadopsi inovasi seperti AWD dan sistem panen air, tantangan iklim diharapkan tidak lagi menjadi penghalang bagi produktivitas nasional.
Dengan semangat kolaborasi dan pemanfaatan anggaran pompanisasi secara optimal, Kementerian Pertanian optimistis bahwa stabilitas pangan Indonesia akan tetap terjaga dan mampu menghadapi potensi kemarau dengan lebih tangguh dan berkelanjutan. (RS) (*/Adv)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023