Opini

Persaudaraan Yang Membahagiakan

Monday, 30 March 2026 16:13 WIB
Foto: Dr. H. Ade Mujhiyat, M.Pd

Radarsuara.com - Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat, M.Pd (Sekretaris Umum Dewan Kemakmuran Masjid Nurul Iman Kementerian Pertanian RI)

Sebagai orang beriman, kita bertekad untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.  Juga  memperbagus hubungan dengan sesama manusia, keluarga, sanak saudara, kerabat, dan interaksi sosial kemasyarakatan yang solid dan harmonis. 

Islam telah mengatur bahwa menjalin hubungan baik dengan manusia (Hablum minan-naas), sama pentingnya dengan menjalin hubungan baik dengan Allah SWT (Hablum minallah). Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memperkuat tali persaudaraan, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali hubungan kepada Allah dan tali hubungan dengan manusia.” (QS. Ali Imran ayat 112).

Ayat ini menegaskan, bahwa manusia tidak akan diliputi kekacauan dan kehinaan dalam hidupnya, sepanjang menjalin hubungan baik dengan saudaranya, satu dengan lainnya.  Dengan kata lain, bahwa manusia akan selalu diliputi kebahagiaan ketika saling cinta, saling asih, hidup rukun, akur, tentram, damai dan penuh kasih sayang sesama saudara. Allah SWT menegaskan dalam berfirman-Nya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Surat al-Hujurat ayat 10). 

Dari ayat di atas secara tegas dijelaskan tentang pentingnya hidup yang damai. Jika terjadi perselisihan, agar dicari solusi terbaik untuk mengatasinya. Maka dari itu, hidup damai dan tetap bersilaturahmi merupakan kunci jalan hidup yang paling baik.

Rasulullah SAW menjelaskan perumpamaan-perumpamaan yang menggambarkan keutamaan persaudaraan orang mukmin, di antaranya: Pertama, persaudaraan orang mukmin dengan mukmin lainnya itu seperti bangunan, Nabi SAW menjelaskan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. (رواه مسلم)
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim) 

Kerjasama adalah kunci merajut kebersamaan. Tidak egois dan merasa diri paling penting dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus dibangun dalam memperkuat persaudaraan. 

Kedua, persaudaraan orang mukmin dengan mukmin lainnya itu seperti cermin, Rasulullah SAW menegaskan:

اَلْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهَا عَيْبًا أَصْلَحَهُ. (رواه البخاري)
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada cermin itu, maka ia memperbaikinya.” (HR. Al-Bukhari). 

Cermin adalah tempat untuk mengetahui apa yang sudah baik dan apa yang masih belum sempurna. Kebaikan adalah karakter yang harus kita rawat dan jaga dalam berinteraksi dengan sesama saudara. Sedangkan keburukan sebisa mungkin harus kita hindari dan jauhi. Kita harus menjadi cermin yang baik dan cantik untuk saudara kita. 

Ketiga, orang-orang mukmin itu seperti lebah, sebagaimana sabda Nabi SAW:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ. (رواه البيهقي)
“Perumpamaan orang-orang mukmin seperti lebah, apabila makan maka ia akan memakan suatu yang baik, apabila mengeluarkan sesuatu ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik, dan apabila hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. al-Baihaqi). 

Orang mukmin hanya melakukan yang baik-baik, makan yang halal dan baik,  berkata yang benar dan jujur, bersikap yang santun dan sopan. Apapun keadaannya, ia akan berusaha melakukan yang baik-baik, terlebih kepada saudaranya. Menjunjung tinggi akhlak yang mulia.

Keempat, orang mukmin itu seperti tubuh, seperti dijelaskan dalam hadits Nabi SAW:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. (رواه مسلم)

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR Muslim) 

Orang mukmin bagaikan satu tubuh utuh yang kalau sakit salah satu organnya, yang lain pun merasa sakit.

Dalam hadis riwayat Abdullah Ibnu Umar, secara jelas dan rinci Rasulullah SAW juga bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلَا يسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ القِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة(رواه البخاري) 

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzalimnya dan tidak membiarkannya disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang mengilangkan satu kesusahan seseorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR: Bukhari)

Keutamaan Menolong Saudara

Ada keutamaan bagi orang yang memberi kebahagiaan pada saudaranya dan mengangkat kesulitan beban hidup saudaranya yang lain. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi SAW bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Maka, kita semua umat Islam, sudah sepatutnya untuk saling memahami, menghormati, bersinergi, menjaga, saling tolong-menolong dan memuliakan satu sama lain. Sehingga  dapat menjalani hidup dengan penuh damai, harmonis, tentram dan bahagia.

Silaturrahim dan Saling Menyayangi

Dalam rangka meningkatkan tali persaudaraan,  kita dianjurkan untuk bersilaturahmi. Dengan cara enemui seluruh keluarga, saudara, tetangga, maupun teman dan kerabat serta masyarakat. 

Betapa pentingnya silaturahmi ini.  Karena bisa memanjangkan umur dan melapangkan rezeki, semakin banyak relasi dalam kebaikan, dan jangkauan amal baik pun akan semakin besar. Sebagaiamana sabda Nabi SAW:

من أحبَّ أن يُبسَطَ لهُ في رزْقِهِ ويُنْسَا له في أثَره : فلْيَصِلْ رحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umur nya, maka lakukanlah silaturahmi” (HR. Mutafaq Alaih dari Anas)

Bersilaturrahim akan menumbuhkan rasa saling mengasihi dan menyayangi kepada sesama manusia.  Dan Allah SWT sangat mencintai orang yang gemar bersilaturrahim. Rasulullah SAW bersabda:

لا يَرْحَمُ اللَّهُ مَن لا يَرْحَمُ النَّاسَ 

 “Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia (lainnya).” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain dikatakan,

من لا يَرحم لا يُرحم
"Orang yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari)

Nabi juga memerintahkan umatnya agar menyayangi seluruh makhluk Allah yang ada di bumi ini. Karena Allah sangat menyangi orang-orang yang memiliki sifat penyayang. Rasul SAW meneskan dalam sabdanya:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ
“Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barangsiapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya” (HR. Tirmidzi).

Bahwasannya Nabi SAW diutus ke muka bumi ini untuk menebarkan kasih sayang. Sebagaimana firman Allah SWT: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya’: 107)

Marilah kita lapangkan dada kita, agar kita semua menjadi golongan orang-orang yang memiliki sifat penyayang. Yang mempertahankan kesucian jiwa dan menjadikan hidupnya semakin mulia. Kita pupuk terus persaudaraan dan silaturrahim sesama muslim. Agar Allah SWT memberikan karunia-Nya, rahmat, cinta dan kasih sayang-Nya. 

Semoga Allah jaga dan jadikan hari-hari kita kedepan semakin lebih baik. Allah ikat erat tali persaudaraan kita. Allah bahagiakan kehidupan kita, di dunia dan akherat. Bersama-sama merasakan keindahan dan kenikmatan Surga Jannatun Naim. Sebagaimana firman-Nya: “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (QS. Hud [11]:108). (*/Adv) 

 

Komentar

You must login to comment...