Tingkatkan Kompetensi Penyuluh, Kementan Laksanakan MSPP Pemanfaatan Perkiraan Iklim BMKG
Monday, 16 February 2026 12:35 WIB
Tingkatkan Kompetensi Penyuluh, Kementan Laksanakan MSPP Pemanfaatan Perkiraan Iklim BMKG (Foto: Dok. Kementan)
Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 5, Jumat (13/02/2026).
Mengusung tema “Pemanfaatan Perkiraan Iklim BMKG sebagai Dasar Pendampingan Penyuluh dalam Kegiatan Pertanaman”, kegiatan ini bertujuan membekali penyuluh dengan strategi adaptasi menghadapi ketidakpastian cuaca guna menjamin keberhasilan panen nasional.
Acara disiarkan langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan Zoom Meeting, serta diikuti oleh penyuluh dan petani dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung interaktif dengan menghadirkan narasumber dari BMKG Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa langkah antisipatif ini sejalan dengan program strategis yang ada di Kementerian Pertanian, selain itu beliau juga yang menekankan bahwa di tengah ketidakpastian iklim, penyuluh tidak boleh lagi hanya mengandalkan kebiasaan lama, melainkan harus melek teknologi dan data.
"Penyuluh adalah radar pemerintah di lapangan. Di era iklim yang sulit ditebak ini, integritas kalian diuji dari seberapa akurat data yang dilaporkan. Jika datanya nyata, maka solusi yang kita berikan untuk petani tidak akan meleset," tegas Amran.
Sementara itu, Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti mengajak seluruh jajaran penyuluhan untuk mempererat sinergi dalam satu komando demi kenyamanan petani dalam berproduksi.
"Jangan ada yang berjalan sendiri-sendiri.
Menghadapi ancaman banjir dan serangan hama akibat cuaca ekstrem, kita harus bergerak dalam satu irama agar petani tetap bisa tanam dan panen dengan tenang," tegasnya.
Sedangkan Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro memberikan penekanan baru mengenai peran penyuluh di tengah banjir informasi digital. Menurutnya, penyuluh tidak boleh hanya menjadi penyampai pesan, tetapi harus mampu menjadi penerjemah data teknis menjadi bahasa yang mudah dipahami petani.
Eko juga menambahkan bahwa adaptasi terhadap platform digital seperti e-Pusluh dan integrasi data iklim adalah bentuk dedikasi nyata penyuluh dalam menjaga kedaulatan pangan nasional dari ancaman anomali cuaca.
Narasumber dari BMKG, Marjuki, memaparkan bahwa tahun 2026 akan menjadi tantangan besar dengan curah hujan di atas 2.500 mm/tahun di mayoritas wilayah sentra pangan.
"Memasuki pertengahan tahun 2026, kondisi iklim pada Musim Tanam II (April–September) diprediksi berada pada kategori kemarau normal", jelas Marjuki.
"Meski curah hujan cenderung minim, penyuluh diminta tetap mengimbau petani agar waspada terhadap potensi hujan lokal yang tidak menentu.
Sementara itu, pada Musim Tanam III (Oktober–Desember), curah hujan diperkirakan tetap stabil namun risiko banjir akan meningkat drastis di akhir tahun," kata Marjuki.
Marjuki menambahkan, kewaspadaan ini difokuskan pada sejumlah wilayah strategis, meliputi sebagian kecil Aceh, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Selain itu, perhatian khusus juga diberikan untuk wilayah Papua Tengah, Papua bagian Utara, serta Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mengantisipasi cuaca ekstrem demi menjaga keberlanjutan hasil panen.
Menyikapi data tersebut, penyuluh diinstruksikan untuk segera mensosialisasikan tiga langkah darurat kepada petani yaitu Drainase Siaga dengan Memastikan saluran air di lahan sawah berfungsi optimal guna mencegah pembusukan akar; Benih Tangguh: Mendorong penggunaan varietas yang toleran terhadap genangan air; Radar Hama dengan Meningkatkan intensitas pengamatan karena kelembapan tinggi adalah "karpet merah" bagi ledakan hama dan penyakit tanaman.
Iklim dari BMKG harus menjadi "kitab suci" baru bagi penyuluh dalam menentukan kalender tanam.
Janu Sutrisno selaku praktisi mengingatkan bahwa peran penyuluh sebagai penghubung informasi adalah penentu nasib usaha tani di daerah.
"Dengan demikian kami berharap adanya integrasi data yang kuat dan pendampingan yang intensif, Kementan optimis tantangan iklim 2026 tidak akan menyurutkan langkah Indonesia menuju swasembada pangan berkelanjutan", ujar Marjuki diakhir sesi pemaparan. (RS) (*/Adv)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023