Pertanian dan Peternakan

Guru Besar Unpad : Quick Yielding Pengaruhi Mundurnya Sektor Peternakan Sapi Perah

Thursday, 13 June 2024 14:00 WIB
Ilustrasi sapi perah (Dok.Pixabay)

Radarsuara.com - Guru Besar dari Universitas Padjajaran (Unpad) mengungkap temuan yang mengkhawatirkan soal kondisi peternakan sapi perah yang kini tengah menjadi industri penting di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Peternakan Unpad, Prof Achmad Firman, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan jumlah peternak sapi perah di Indonesia mengalami kemunduran yang signifikan.

Menurutnya, salah satu penyebab kemunduran tersebut adalah karakteristik generasi muda saat ini, yang cenderung memiliki sifat 'quick yielding' yang ingin hasil cepat, sedangkan pertanian membutuhkan proses yang memerlukan waktu. 

"Akibatnya, beberapa peternak sudah mulai mengalihkan profesinya," ujar Achmad dikutip Kamis 13 Juni 2024.

Dalam penelitiannya, Achmad memilih keluarga peternak sapi perah yang memiliki anak di Kecamatan Pangalengan sebagai subyek penelitian.

Pangalengan dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan tempat pertama di Indonesia di mana sapi perah diperkenalkan.

Keluarga peternak memegang peranan penting dalam suksesi usaha sapi perah. Proses transfer, sosialisasi primer dan sekunder, persepsi anak, kognisi, serta afeksi di dalam keluarga menjadi fokus penelitian.

“Anak-anak tidak hanya terpengaruh oleh keluarga, tapi juga lingkungan sekitar, baik itu tetangga maupun sekolah,” jelasnya.

Achmad mencatat bahwa masalah suksesi usaha sapi perah bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga telah terjadi di Eropa sejak tahun 90-an.

“Fenomena serupa sudah terjadi di Eropa pada tahun 90-an,” ungkap Achmad.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi keputusan anak peternak untuk melanjutkan atau tidak melanjutkan usaha sapi perah keluarga, seperti pendidikan, usia, lokasi peternakan, pendapat keluarga, skala usaha, total aset usaha, jumlah anggota keluarga, tabungan, hutang, dan produktivitas ternak.

Faktor utama dalam menentukan keputusan anak peternak adalah jumlah anggota keluarga dan lama waktu yang dihabiskan untuk membantu usaha sapi perah keluarga. 

Di KPBS (Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pangalengan), terjadi seleksi ketat terhadap anggota, yang mengakibatkan penurunan anggota selama lima tahun terakhir.

Sedangkan jumlah peternak mengalami fluktuasi. Tahun 2022, terjadi penurunan karena serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

“PMK menyebabkan penurunan produksi susu dan kematian sapi," jelasnya.

Dampaknya, sapi yang terkena PMK tidak lagi mampu memproduksi susu secara normal.

“Sapi-sapi yang terkena PMK harus dieradikasi dan diganti dengan yang baru," pungkas Achmad.

Penulis : Mahipal 

Editor : Khaerul Umam 

Komentar

You must login to comment...