Lahan Pertanian di Sleman Rusak Akibat Kebanyakan Penggunaan Bahan Kimia
Saturday, 16 December 2023 12:08 WIB
Lahan pesawahan di Kabupaten Sleman. (Dok.beritadaerah.com)
Radarsuara.com - Sub Koordinasi Substansi Bina Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPP) Kabupaten Sleman, Sumarno mengatakan, bahwa lahan pertanian di daerahnya mengalami kerusakan yang cukup mengkhawatirkan akibat tingginya intensitas penggunaan zat-zat kimia secara terus menerus.
Menurutnya, akibat tingginya intensitas penggunaan pupuk kimia yang tidak dibarengi dengan penggunaan pupuk organik menyebabkan kandungan organik di dalam tanah semakin berkurang.
“Kalau disebut mengkhawatirkan, ya khawatir juga. Karena memang penggunaan pupuk kimia berlebihan tanpa ada upaya pengembalian pupuk organik,” kata Sumarno.
Dirinya menjelaskan, bahwa rata-rata kandungan organik di lahan-lahan pertanian di Sleman hanya di kisaran 1,2 sampai 1,7 persen saja. Padahal, idealnya untuk melakukan budidaya idealnya tanah memiliki kandungan organik minimal 5 persen.
“Sebenarnya untuk mencapai 5 persen itu agak susah, karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus dan petani tidak mengembalikan bahan organik tadi,” tuturnya.
Sumarno mengungkapkan, bahwa wilayah yang lahan pertaniannya mengalami kerusakan parah ada di Sleman Barat, mulai dari Godean, Gamping, Moyudan, Seyegan, hingga Minggir.
"Jadi, itu wilayah-wilayah yang kondisi lahan pertaniannya cukup parah, sebab kebanyakan terus menerus ditanami padi sepanjang musim, padi-padi-padi," tegasnya.
Dijelaskan dia, dalam budidaya padi pupuk yang digunakan hampir 100 persen pupuk kimia, maka kondisi tanah pertanian di kawasan tersebut lebih cepat rusak.
Dia juga menyatakan, berbeda dengan yang pola tanamnya padi, padi, hortikultura atau padi, padi, palawija, maka penggunaan pupuk organiknya agak lumayan banyak, karena secara tidak langsung ada upaya untuk memperbaiki tanah.
Dampak dari kerusakan tanah tersebut menurutnya sudah mulai dirasakan dengan adanya penurunan produktivitas. Hal itu terbukti dari rata-rata produktivitas lahan pertanian di wilayah Sleman hanya di kisaran 5 ton per hektare, bahkan ada yang hanya 4,5 ton.
“Produktivitasnya stagnan di angka itu-itu terus, mentok di 5 ton, untuk menaikkan 5,5 ton ternyata susah,” paparnya.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, saat ini pemerintah menurutnya terus mendorong para petani untuk meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi pupuk kimia.
"Kita terus berupaya meningkatkan penggunaan pupuk kimia oleh petani untuk mengembalikan kandungan organik tanah," tandas dia.
Penulis : Asep Supriyanto. Editor : Khaerul Umam
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023