Pertanian dan Peternakan

Petani di Jogja Mulai Tinggalkan Pertanian Konvensional 

Friday, 29 September 2023 12:08 WIB
Petani di Seleman Yogyakarta panen raya padi organik. (Dok.antaranews)

 

Radarsuara.com - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Korijinawi, di Yogyakarta mulai tinggalkan konsep pertanian konvensional dan beraih ke pertabian organik, sebab dinilai membawa manfaat lebih selain keuntungan secara bisnis juga bermanfaat untuk alam karena ramah lingkungan.

Ketua Gapoktan Korijinawi, Budiman mengatakan, bahwa saat ini memang belum semua kelompok tani menerapkan sistem pertanian organik. 
 
“Kami masih merintis, seperti apa hasilnya nanti. Sekarang baru lima hektar yang sudah ditanam dan diperlakukan secara organik," katanya.
 
Dirinya menjelaskan, bahwa produk padi organik memiliki prospek yang cukup tinggi, sebab masyarakat sadar untuk kebutuhan pangan yang sehat. 
 
"Saya harap kedepan semua bisa menanam secara organik. Karena dari 5 hektar yang kami rintis, sangat terlihat kualitasnya bagus," jelasnya.
 
Selain itu kata dia, dari segi pembiayaan juga lebih murah dan juga ramah lingkungan, sehingga konsep pertanian organik lebih banyak membawa manfaat  dan keuntungan dibanding pertanian konvemsional.
 
Dirinya menuturkan, bahwa beras putih, hitam dan merah yang mereka produksi dijual dengan harga Rp 16 ribu. Dan harga tersebut lebih tinggi dari beras pada umumnya. 
 
"Alhamdulilah respon baik dari konsumen cukup baik, sejauh ini 
pemasaran kami masih perorangan, misalnya ke beberapa catering," ungkapnya.
 
Masih kata dia, bahwa, secara produktivitas hasil panen padi organik lebih bagus daripada penanaman yang menggunakan pupuk kimia. 
 
"Jadi, rata-rata hasil panen kita dalam satu hektar bisa menghasilkan sebanyak 7,5 ton gabah kering. Atau jika dikonversi menjadi beras kurang lebih 4,5 hingga 5 ton," tandasnya.
 
Untuk itu pihaknya mengajak, kepada para kelompok tani agar terus mengembangkan pertanian organik, selain bertujuan untuk meningkatkan pendapatan juga semata-mata untuk menjaga alam agar tetap subur.
 
Penulis : Asep Supriyanto
Editor.   : Khaerul Umam 

Komentar

You must login to comment...