Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Joko Suhartono mengatakan, Pemkab Boyolali membangun 432 sumur dangkal dengan harapan mampu mengairi sekitar 126,9 hektare.
Joko mengungkapkan, Sumur dangkal itu telah dibangun di Kecamatan Sambi sebanyak 57 sumur, di Kecamatan Ngemplak 55, kecamatan Klego 55, Nogosari 52, Andong 48, Karanggede 27 dan kecamatan Simo sebanyak 26 sumur.
Selanjutnya, di Kecamatan Sawit ada 20 sumur, Banyudono 20 sumur, Wonosegoro 17 sumur. Kecamatan Mojosongo 16, Teras 16, Boyolali Kota 12 sumur, Ampel 6 sumur, Juwangi 3 sumur, dan terakhir di Kecamatan Kemusu 2 sumur.
"Jadi, satu sumur ini rata-rata digunakan lima jam dan bisa mengairi lahan pertanian sekitar 3.000-3.500 meter persegi,” ungkap Joko.
Masih kata Joko, dengan ratusan sumur dangkal yang telah ada, diperkirakan mampu mengairi lahan pertanian seluas 126,9 hektare. Tapi kata dia, untuk penyebarannya belum merata di 22 kecamatan.
"Jadi subur dangkal ini prioritas untuk lahan pertanian yang tidak memiliki irigasi dangkal karena lokasinya berada di lereng Gunung Merapi-Merbabu," paparnya.
Joko menerangkan, daerahnya selain memiliki potensi yang berada di lereng gunung juga memiliki lahan pertanian tadah hujan. Berdasarkan data, luas sawah tadah hujan mencapai 11,125 hektare.
Menurut Joko, dari luas lahan yang ada, untuk masa penanamannya 124,4 hektare hanya satu kali tanam, 10.340,6 hektare bisa dilakukan dua kali, dan 170 hektare bisa dilakukan tiga kali tanam, sedangkan 490,6 hektare tidak bisa ditanami.
Diakui dia, fenomena El Nino menjadi tantangan serius dalam menjaga ketahanan pangan, terlebih potensi pertanian yang dimilikinya juga dihadapkan dengan ketersediaan air.
"Kami terus berupaya, penyuluh juga terus turun kelapangan mendampingi para petani, sehingga bisa selalu mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi petani," tandasnya
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam