Kepala Bidang Perikanan Budidaya Diskan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Azis mengatakan, saat ini budidaya lele sudah mulai berkembang dan jumlah pelaku budidaya semakin meningkat.
Diakui Wahid, Diskan memiliki inovasi teknologi berupa budidaya ikan lele di kolam bundar dengan menggunakan sistem RAS.
"Dalam sistem RAS ini, dimana air dalam kolam disirkulasi kembali melalui proses yang membuat kotoran ikan, sisa makanan, senyawa dan gas beracun hasil efek samping dari kotoran ikan dapat dijebak dalam tangki pengendapan dan filtrasi,” kata Wahid.
Dia menerangkan, setelah melalui tahapan tersebut air kembali kedalam kolam. Kotoran dan senyawa yang berbahaya pun sudah hilang atau berkurang.
"Jadi, dengan proses ini air yang kembali ke kolam tetap stabil dan sehat, sehingga bakteri tidak berkembang, kesehatan dan daya tahan ikan terjaga, nafsu makan ikan tidak menurun, sehingga pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat," tuturnya.
Dia menjelaskan, sistem resirkulasi dalam budidaya ikan lele ini bertujuan untuk melakukan penghematan dalam penggunaan air dan ruang, kestabilan sistem dari gangguan cuaca dan lingkungan.
"Semakin mahal dan sensitive jenis ikan, semakin lengkap tahapan sistem RAS yang harus dibuat," jelasnya.
Masih kata dia, hal harus diperhatikan adalah, perlunya memahami sistem budidaya ikan dan cara kerja masing-masing model alat agar tidak salah dalam membuat konfigurasi alat filtrasi.
Dia juga menjelaskan, budidaya dengan system RAS, mampu meningkatkan produktivitas bisa hingga 100 kali lipat dibanding dengan sistem konvensional.
"Teknologi budidaya ikan lele dengan sistem RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 200-250 ekor per m3. Sistem ini juga memangkas masa pemeliharaan ikan menjadi relatif lebih pendek,” tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam