"Semoga proses perkembangan buah tidak terganggu agar beratnya tidak berkurang. Kalau produksi TBS (tanda buah segar) turun, otomatis penghasilan petani pasti ikut turun," kata salah satu petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah, Iskandar Maun.
Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bengkulu, Jakfar menyebutkan, suhu udara yang ekstrim dapat mempengaruhi kualitas TBS kelapa sawit.
"Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan TBS kehilangan kandungan minyaknya, ini bisa mempengaruhi harga jual petani. Tapi kita berharap ini tidak terjadi," ujarnya.
Dia juga berharap agar kondisi cuaca segera membaik. "Kami berharap agar hujan segera turun dan suhu dapat kembali normal. Kami tidak ingin mengalami kerugian akibat cuaca panas yang berkepanjangan," ucapnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, kondisi cuaca yang ekstrem memang bisa saja mempengaruhi produksi TBS kelapa sawit.
Namun, petani sawit telah dilatih untuk menyiasatinya dengan menerapkan berbagai teknik pertanian yang dapat membantu mengurangi dampak dari cuaca panas yang berkepanjangan.
"Lagi pula, walaupun suhu panas ekstrem, tapi sesekali tetap ada hujan turun," katanya. (UM)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...