Seperti halnya di Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Untuk meningkatkan hasil panen, mereka menanam menggunakan metode tumpang sari, dengan menanam komoditi cabai rawit dan jagung.
Menurut, Kepala Desa Pondok Wuluh Ahmad Undi Witono, di wilayahnya ada lebih dari 30 hektare pertanian yang dikelola masyarakat. Di area itu masyarakat menanam komoditas beragam, seperti ubi, jagung, cabai rawit, timun, kangkung hingga bayam.
"Ada sekitar 11 hektare yang dimanfaatkan untuk tumpang sari. Jadi petani menanam lebih dari satu jenis tanaman dalam waktu bersamaan," ungkapnya.
Dijelaskannya, kelebihan menanam dengan metode tumpang sari bisa menekan biaya produksi dan waktu penanaman jadi efisien.
"Jadi, panennya bisa lebih cepat karena ditanam dalam waktu bersamaan. Misalnya, usai dua bulan menanam jagung, maka berlanjut nanam cabai," jelas dia
Selain itu, pengairan, pemupukan dan pengolahan lahan lebih irit, karena luas lahan sama tetapi ditanam beberapa jenis tanaman, berbeda dengan ditanam sendiri sendiri.
"Jadi, kalau tumpang sari itu, sekali tanam dapat dua kali panen,” jelasnya. (AS)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...